News

ESDM Bidik 53 Smelter di 2023: Kemungkinan Tak Tercapai

Kementerian Energi dan Sumber Mineral (ESDM) menargetkan dapat membangun total 53 fasilitas pemurnian logam atau smelter di tahun 2023, untuk mendukung upaya pengembangan industri hilirisasi tambang di Indonesia.

Foto udara pembangunan smelter baru PT Freeport Indonesia (PTFI) pada akhir Juli 2022. Foto: Dok. PTFI© Disediakan oleh Kumparan

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara (Minerba), Irwandy Arif, mengatakan sejauh ini pihaknya mengelola 21 smelter per tahun 2021. Tahun 2022 mendatang, rencananya akan bertambah 7 menjadi total 28 smelter.

“Kita ada 21 smelter masih, ada tambahan 7 di tahun ini dan (total) 53 di tahun 2023. Ini yang kemungkinan tidak tercapai,” ungkapnya saat Launching Buku Kajian Manufaktur dan Pariwisata, Jumat (18/11).

Sementara itu, dia mengungkap masih ada 32 smelter yang masih dalam proses konstruksi. Contohnya smelter bauksit saat ini hanya berjumlah 3 unit, masih ada 9-10 unit dalam tahap konstruksi untuk mempersiapkan larangan ekspor bauksit di Juni 2023.

Presiden Joko Widodo memberikan arahan saat groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022). Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto© Disediakan oleh Kumparan

Menurut dia, pengembangan hilirisasi di Indonesia tidak mudah sebab masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Sementara itu, secara internal Presiden Jokowi menginginkan hilirisasi tidak hanya di satu komoditas tapi juga bauksit, timah, nikel, dan sebagainya.

Irwandy menjelaskan, tantangan pertama ada di permasalahan harga komoditas yang selalu berfluktuasi. Terlebih saat ini, windfall profit atau durian runtuh dari sektor komoditas sudah semakin menurun saat ini.

“Kita harus hati-hati, bukan hanya peningkatan, tapi (industri hilirisasi) sangat sensitif kepada harga dan ini bisa berubah setiap saat secara drastis,” ungkapnya.

Dia memaparkan, perubahan harga komoditas dilaporkan setiap bulan kepada Menteri ESDM. Adapun untuk bulan ini, kata dia, hampir 70 persen harga komoditas mengalami penurunan dibandingkan bulan lalu.

“Hanya sekitar 30 persen yang naik. Ini bukan hal yang mudah karena hasil daripada hilirisasi sangat tergantung pada harga dan harga tidak bisa dikontrol,” jelas dia.

Selain itu, faktor lain yang menjadi tantangan industri hilirisasi yakni penerapan teknologi yang ramah lingkungan. Dia mencontohkan produksi green metals untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik seperti baterai lithium.

“Kemudian produksi logam terbatas kita masih utamanya nikel, emas, perak, tembaga tapi produk samping belum digarap dengan baik. Lalu pengembangan ekosistem baterai, stainless steel, dan modul surya yang sudah di depan mata cukup berkembang di Indonesia,” jelasnya.

Terakhir, Irwandy menyebutkan sederet tantangan lain yaitu persoalan perizinan, pendanaan, dan sumber listrik yang menghambat pembangunan smelter. Padahal, menurut dia, 53 smelter ini bisa mendorong proses hilirisasi di dalam negeri.

“Hingga ini kita lihat banyak yang masih konstruksi yang diselesaikan, kalau semua selesai ini akan menjadi mendukung hilirisasi. Kesulitan pendanaan, sumber listrik, perizinan yang kadang-kadang lama sekali,” pungkas Irwandy.

sumber: kumparan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *