Berita

Peneliti Temukan Sungai Purba yang Aktif 40 Juta Tahun Lalu dan Mengalir di Bawah Antarktika

Sekelompok ahli geologi menemukan sisa-sisa sungai purba yang aktif 40 juta tahun lalu di Antarktika.

Dikutip dari Live Science, Jumat (21/6/2024), penemuan tersebut memberikan gambaran tentang sejarah Bumi dan perubahan iklim ekstrem yang dapat mengubah Bumi.

Ahli sedimentologi di Alfred Wegener Institute Helmholtz Center for Polar and Marine, Jerman, Johann Klages mengatakan bahwa awalnya peneliti ingin menyelidiki peristiwa iklim besar di Antarktika.

Namun di luar dugaan, mereka justru menemukan sungai tua yang pernah mengalir di bawah lapisan es Antarktika sejauh seribu mil.

Temuan ini semakin menguatkan teori yang mengungkapkan bahwa dulunya pernah ada sungai kuno yang mengalir di sana.

Batuan sedimen yang diteliti dari lokasi tersebut sebagian besar mengandung pasir dari zaman Eosen pertengahan hingga akhir, sekitar 30-40 juta tahun lalu.

“Ini menarik – baru saja membayangkan gambaran menarik di otak Anda bahwa ada sistem sungai raksasa yang mengalir melalui Antartika yang kini tertutup es berkilo-kilometer,” ungkap Klages.

Usai penemuan tersebut, kini Klages dan timnya sedang memeriksa sedimen inti dari zaman Oligosen-Miosen yang berumur sekitar 23 juta tahun.

Nantinya, hasil analisis tersebut akan menyempurnakan model dari prediksi perubahan iklim yang sudah ditemukan oleh ilmuwan.

Tujuan peneliti datang ke Antarktika

Awalnya, Klages dan timnya berangkat untuk menyelidiki perubahan iklim yang terjadi pada zaman Eosen.

Kala itu, atmosfer bumi mengalami perubahan drastis, dengan tingkat karbon dioksida yang anjlok hingga terjadi pendinginan global.

Dikutip dari The Economic Times, akibat peristiwa tersebut, mulai muncul gletser di permukaan Bumi yang bebas lapisan es.

Ilmuwan tertarik untuk menyelidiki peristiwa iklim pada masa lampau karena tingkat karbon dioksida di Bumi yang terus meningkat akibat perubahan iklim.

Diperkirakan, jumlah karbon dioksida pada akhir periode Eosen hampir dua kali lipat dari jumlah yang ada di atmosfer saat ini.

Meski demikian, dalam 150-200 tahun mendatang, apabila gas rumah kaca terus meningkat, kemungkinan jumlah karbon dioksida di Bumi akan sama dengan yang ada pada akhir zaman Eosen.

Awal mula penemuan sungai purba di Antarktika

Pada 2017, Klages dan ilmuwan lain yang berada dalam ekspedisi Polarstern melakukan perjalanan panjang menuju Antarktika.

Ketika sampai di sana, para peneliti kemudian mengumpulkan inti dari sedimen lunak dan batuan keras di dasar laut yang membeku.

Setelah mengambil sedimen dan menelitinya, para ilmuwan menemukan bahwa batuan tersebut mengandung fosil, spora, dan serbuk sari.

Temuan tersebut umumnya merupakan ciri khas dari sisa hutan hujan beriklim sedang yang berasal dari pertengahan periode kapur, yaitu sekitar 85 juta tahun lalu.

Ketika dilakukan analisis biomarker lipid, mereka menemukan molekul unik yang biasa ditemukan pada cyanobacteria yang hidup di air tawar.

Saat diamati lebih dekat, peneliti mengenali pola stratifikasi kuat pada lapisan pasir Eosen yang menyerupai pola dari delta sungai.

Uniknya, pola tersebut mirip dengan pola yang ditemukan pada Sungai Mississippi atau Sungai Rio Grande di Amerika Serikat.

Tak hanya itu, sungai besar yang pernah mengaliri Antarktika ini juga terkubur beberapa kilometer di bawah lapisan es yang ada saat ini.

sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *